Oleh Hasto Harsono di Kajian Kedokteran Islam – IMANI

Alkisah sore itu saya praktek seperti biasanya. Beberapa pasien sudah berlalu. Senang rasanya bisa bertemu dengan mereka, menjadi perantara kesembuhan mereka dan sebagai efek sampingnya saya bisa mendapat rezeki yang halal lagi baik dari mereka. Alhamdulillah yah..!

 

“Berikutnya, panggil Dok?” tanya suster. Tidak pakai ngesot.

“Ya, oke….!”

“Nyonya Ira (ini nama bukan sesungguhnya)!” panggil suster yang selalu baik hati ini.

Lalu masuklah seorang wanita yang saya perkirakan berusia dua puluhan. Sinar matanya lugu.

“Silahkan duduk Bu Ira…”, saya mempersilahkan pasien ini duduk. Saya mulai membuka lembar rekam medis.

 

Nama: Ira Rosita

Tempat tanggal lahir: Jakarta, 27 Juli 1977

Hm… awet muda juga ibu ini ya? Di status tertulis umurnya 34 tahun, tapi tampangnya hemat, minimalis dan awet muda. Ya… memang sekarang teknologi sudah canggih, mungkin ibu ini pernah face off pakai wajah yang lebih muda.

Pendidikan: S1

Pekerjaan: karyawati swasta.

 

Saya juga membaca lembar isian asuransi atas nama yang sama. Belum ada kecurigaan apa-apa.

 

Sejurus kemudian masuk pula seorang lelaki ramah. Pakaiannya necis. Dari cara berjalannya belum ketahuan berapa gajinya.

Ia tersenyum. Saya membalas tersenyum. Adu senyum ini berlangsung singkat, bukan karena takut fitnah, namun karena saya segera bertanya dalam hati: ini siapanya yah?

 

Si Bapak Ramah duduk di kursi sebelah bu Ira. Duduknya tegak. Kaku. Tak tenang.  Aih…Apakah dikau ambeien? 

 “Apa kabar Bu Ira?” tanyaku kepada si ibu muda. Eh, si ibu Ira ini nyengir. Sumpah, ini bukan cara nyengir seorang yang lahir pada dua tujuh bulan juli tahun tujuh tujuh! Bukan pula cara senyuman seorang yang biasanya bernama Ira atau Melissa. Ini senyuman wanita yang biasanya bernama Inah atau Inem , dan ngucek adalah salah satu hobinya. Hehe.. pis ah bercanda.

Lalu saya membaca riwayat berobat si ibu. Serenteng.  Cukup sering dia berobat ke sini rupanya. Tapi rasanya baru pernah lihat. Penyakitnya standar untuk seorang yang lahir tanggal dua tujuh juli tujuh tujuh. Tertulis riwayat pernah operasi sectio cesarea 2 tahun yang lalu. Operasi appendix setahun kemudian.

“Keluhan ibu apa ya? Apanya yang sakit?”

“Ini Pak… saya batuk” (Nah kan? Seorang yang namanya Ira nggak mungkin manggil dokter pakai Pak, heheh)  Kok saya jadi curiga, jangan-jangan…

“Sudah berapa lama?”

“Seminggu.”

“Berdahak? Apa kering batuknya? Uhuk-uhuk apa cekrek-cekrek?”

Celingukan lagi. Waaaah ini, jadi penasaran saya.

Saya jadi lebih tertarik untuk menggali hal lain, selain keluhan sakit si ibu saat ini. Maka pertanyaan tiba-tiba melancong ke pertanyaan yang ora nyambung,” Ibu gimana perutnya yang operasi tahun lalu? Masih suka sakit nggak?”

Celingukan.

“Ibu sudah sering berobat di sini ya?”

Wajahnya bingung. Ada bayangan kata enggak yang dicoret di dinding benaknya.

Secara ajaib Si bapak Ramah Tamah segera mengambil alih jawaban, “Iya Dok…”

“Bu Ira pernah operasi usus buntu ya? Sama dokter siapa?”

Celingukan bombai. Tatap matanya seperti minta tolong kepada laki-laki ramah di sebelahnya.

Si Bapak Ramah Tamah semakin gelisah. Jangan-jangan ambeiennya beranak pinak.

“Eh, Bapak suamnya  ibu, ya?” tanya saya dengan derajat keramahan yang setingkat dengannya.

“Iya!” jawabnya pasti. Ya pasti. Pertanyaannya kok pinter temen doook…wkwk

Wah ndak kena. Saya ganti pertanyaannya.

“Jadi bapak suaminya ibu ini?” arah tangan saya ke si ibu.

Naaah. Tuing… tuing…

Saya membaca wajah si bapak. Romannya berubah jadi grogi. Tampaknya sedang terjadi polemik hebat di benaknya. Satu sosok dirinya yang bertanduk bilang: hayoo ngaku sajalaaaah biar amaaan.  Itu dokter biarpun ganteng tapi kelihatannya lugu, nggak bakalan tahu kalo lu bohoooong! Satu lagi yang bersayap putih bilang: heeee… beneran loh lo jadi suaminya. Emang mau?

Cengengesanlah dikau sekarang, Bapak Ramah… Hihihi

Ia minta ijin keluar ruang. Sekitar 58 detik kemudian ia masuk menggandeng seorang ibu yang cantik dan anggun mengenakan blazer kantoran. Saya perkirakan ibu ini yang bernama Ira. Dan ia layak untuk lahir tanggal dua tujuh bulan juli tujuh tujuh.

Segera saja saya melengkapi puzzle jawaban atas kecurigaanku. Ahai, mari kita buktikan!

Keduanya terlihat cengengesan memasuki ruangan. Kompak nian.

Mungkin pasangan ini bertemu pada pertemuan tahunan Perhimpunan Orang Cengengesan Seluruh Indonesia yang kalau ada angin menjelang Pemilu bisa berubah menjadi Partai Orang Cengengesan Indonesia.

Tanpa ragu-ragu saya meluncurkan pertanyaan berbahaya yang bisa memicu stroke ringan: “Ibu yang namanya bu Ira ya?”

Hehehe… ibu  anggun berblazer itu cengengesan. Turun dua strip keanggunannya dengan caranya cengengesan itu.

“Dan mbak? Nama mbak siapa?”

“Inah”

Huahaha…..! Saya tertawa keraaaaaas sekali dalam hati. Ya, dalam hati.  Itu demi menjaga wibawa baju putih saya. Huahaha…

“Mbak Inah apanya Bu Ira?”

“Saudaranya…” kata Bu Ira. Yo wes lah sodara, secara namanya cuman beda dua huruf.

“Saya pembantunya Dok.” Yuaaaah, dasar pembantu nggak kompak! Kok ya, jujurnya mbaaaaak! Huahahah…

Yo wes lah, mau sodara mau pembantu nggak ngaruh. Intinya ada kejadian aneh bin ajaib mirip sinetron stripping di meja praktek saya sore ini. Ajiiiib, huahaha…

Wong dokter-dukun kok mau ditipu.

Tahulah saya motif dari sandiwara satu babak ini, mereka adalah sepasang suami istri yang memiliki polis asuransi. Pembantu sakit. Dari pada keluar biaya berobat, mending pakai polis punya si istri. Sayang kan, jatah berobat setahun baru sedikit terpakai sementara besar jaminan kesehatannya memang lumayan besar.

Hehehe… Oalah Buuuu, hampir ketukar dikau. Kalau tidak jeli yang beginian bisa lewaaat.

Wadoooh, jangan jangan riwayat berobat yang serenteng ini gabungan dari Bu Ira, adiknya, pembantu tetangganya, mertuanya, temannya, teman arisan neneknya, teman arisan nenek tetangganya, teman senam jantung sehat neneknya, teman majelis taklim nenek tetangganya dan lain sebagainya yah? Memanfaatkan jaminan kantor yang lumayan.

Baik sih maksudnya, tapi….

***

Lalu saya jelaskan apa itu rekam medik. Apa gunanya. Apa akibatnya kalau rekam medik tercampur atau tertukar.

Kemudian si mbak Inahi tetap saya periksa. Saya minta sepasang suami istri yang tetap hobi cengengesan itu untuk mendaftarkan Inah sebagai pasien baru dengan nomor rekam medik sendiri.

Ahahaiii… aya-aya waeee…

Ini kali yah yang namanya sandiwara sinetron Putri yang Ditukar?

***

Penutup

Sejak kejadian itu, sepasang suami istri itu tidak pernah bertemu dengan saya. Mungkin mereka mendirikan Partai Orang Cengengesan Indonesia.

Inah, mungkin masih bekerja di keluarga tersebut. Batuknya sembuh. Dan semoga tetap jujur, tidak tergiur untuk mendukung partai majikannya.

Saya, alhamdulillah masih sehat. Masih kayak dulu. Kadang-kadang nulis di blog.