Oleh Sylvia Wardhani  di Kajian Kedokteran Islam РIMANI

Selalu ada momen berkesan dalam hidup,yang tidak mudah dilupakan bahkan setelah melewati ribuan kejadian.

bagi saya salah satunya adalah hari ketika pasien IPD yang menjadi bahan observasi selama berminggu-minggu akhirnya menghembuskan nafas terakhir, di tengah kebingungan saya memperhatikan hasil CT-scannya yang tak juga saya pahami.

sedih,kesal,bingung,campur dalam satu mangkok bernama hati.apa yang harus saya lakukan?ujian tinggal beberapa hari lagi,sementara pasien saya “hilang”..PF macam apa yang nanti harus saya peragakan atas orang yang sudah tidak ada?atau ganti pasien?yang juga berarti mengganti judul tugas,cari daftar pustaka baru,dll,dll…pusingnya!!

kaku,saya menghadap Prof Dal (dosen pembimbing saya).beruntung sekali,pas di saat saya benar-benar membutuhkannya (biasanya setengah butuh),pas beliau ada.

kelu sekali lidah saat menceritakan masalah ini pada beliau,karena saya berhusnuzhon:pasti disuruh ganti pasien!

dengan sabar beliau mendengarkan saya,sampai uneg-uneg saya keluar semua.

dan beliau mengeluarkan nasehat yang sampai bertahun lamanya tak pernah saya lupakan:

“sylvi..kewajibanmu terhadap pasien itu ada lima”

“pertama,mendengarkan masalahnya”

“kedua,melakukan pemeriksaan fisiknya,baik olehmu sendiri maupun dibantu oleh alat”

“ketiga,menetapkan hasil analisamu berupa diagnosis”

“keempat,membantu pasienmu dengan terapi yang paling sesuai yang bisa kau usahakan”

“dan..”

“kewajibanmu yang terakhir,adalah mendoakannya…”

saya 100% ternganga..

cerita itu ditutup dengan ujian pasien saya tentang ca kaput pankreas tanpa fisik pasiennya lagi.tanpa ada keberatan sedikitpun dari Prof Dal.dan juga dari dokter penguji.what a surprise!!

sejak itu saya belajar bahwa berusaha memberikan yang terbaik bagi pasien entah itu pelayanan ataupun terapi adalah tugas profesi. namun memberikan doa adalah tugas kemanusiaan.tugas sesama manusia,yang sejatinya sama-sama berada di dalam wilayah ketidakpastian.

dalam perjalanan profesi ini,saya juga mendapati:mendoakan pasien adalah parameter “kesehatan” saya pribadi.refleksi hubungan saya dengan ego dan kepentingan pribadi.refleksi hubungan saya dengan Sang pencipta para dokter dan para pasien ini.saat pasien keluar dari ruangan dengan oleh-oleh resep sahaja,saat pasien malah mendapati hatinya luka karena sempat saya bentak,saat pasien mengeluh pada petugas apotek atau perawat tentang mengapa obat yang harus ditebus bisa sampai setengah juta harganya,saat saya berwajah tidak peduli…saat itulah saya harus berkata pada diri saya sendiri:there’s something wrong inside me!

penutup:

menjadi dokter selamanya akan menjadi sebuah panggilan nurani.tidakkah begitu?

karena hanya nurani yang bisa mendoa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *