oleh Ahmad Fuady di Kajian Kedokteran Islam – IMANI

Tempo hari saya didatangi tiga pemuda di kantor yang menawarkan kesempatan menjadi donatur untuk sebuah acara seni. Awalnya saya tertarik mendengarkan karena berkaitan dengan drama musikal dengan pemerannya sendiri yang datang ke kantor saya. Hingga pada satu titik mood saya ambruk karena dengan bangga mereka menyebut satu yayasan terkenal yang berkaitan dengan produksi rokok sebagai inisiator acara ini.

Tak ada yang baru, sesungguhnya. Hanya saja, praktik ‘corporate social responsibility’ ala rokok terus saja gencar dilakukan meski sebenarnya mayoritas pakar corporate social responsibility (CSR) menolak gaya ‘CSR’ rokok sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Laporan WHO menyatakan bahwa industri rokok dianggap masuk dalam kategori harmful industry sehingga tidak ada satu pun indeks socially responsible investment (SRI) yang menyertakan perusahaan rokok ke dalam portofolio investasinya. Para pakar CSR pun menolak berbagai keterlibatan industri rokok dalam aktivitas ilmiah CSR, seperti yang pernah terjadi dalam forum Ethical Corporation Asia di Hongkong pada tahun 2004. BAT dan Philip Morris, dua perusahaan rokok terbesar di dunia, awalnya terdaftar sebagai sponsor emas dan mengirim eksekutifnya sebagai pembicara, namun ditolak melalui petisi 86 pakar CSR dan etika bisnis.  Survey mutakhir pun menunjukkan bahwa kinerja CSR industri rokok termasuk yang paling rendah di kalangan industri. Survey CSR Monitor oleh Globescan pada tahun 2007 menunjukkan skor industri rokok jauh lebih rendah dari industri tambang, bahkan industri minuman beralkohol.

Berkali-kali industri rokok melakukan upaya ‘pemalsuan wajah’ dengan mensponsori berbagai kegiatan. Namun, upaya tersebut telah dianggap WHO dalam laporannya sebagai langkah kontradiktif yang hanya menyamarkan upaya promosi produk rokok. Fakta-fakta kontradiktif itu menyangkut ‘kebohongan’ upaya pencegahan anak muda merokok dengan tetap menolak adanya peningkatan harga dan pajak. Studi lain yang dipublikasikan di BMJ menyebutkan bahwa dari 90 universitas dan 16 fakultas kedokteran, 39% di antaranya mendapat donasi dan 25% fakultas kedokteran mendapat grant penelitian dari industri rokok. Upaya ini ditengarai sebagai langkah infiltratif industri rokok dengan ‘membeli’ institusi pendidikan agar diam dan tidak menentang industri rokok.

Lalu, pantaslah bila indutri rokok dipertanyakan tentang CSR, apakah sebenarnya tanggungjawab sosial yang tengah mereka upayakan? Bila disebut-sebut sebagai sponsor acara olahraga, media promosi yang tersebar dan dipajang di mana-mana justru meningkatkan pemasaran rokok dengan berbagai efek buruknya. Bila yang dikedepankan adalah seni dan pertunjukan budaya, bagian mana yang dapat disebut sebagai pencegahan konsumsi rokok di masyarakat? Alih-alih memberikan kompensasi kegiatan sosial, akan jauh lebih berharga bila industri rokok berniat baik membatasi dampak negatif yang hingga kini belum juga terwujud. Justru CSR yang sesungguhnya adalah melakukan internalisasi-ekternalitas dengan memastikan tiga hal, yaitu menekan dampak negatif seminimal mungkin, mengompensasi dampak residual dengan proporsional, dan mengelola dampak positif semaksimal mungkin. Tanpa tiga hal tersebut, klaim industri rokok melakukan CSR tertolak. Bahkan, industri yang langsung terjun dalam kegiatan amal tanpa terlebih dahulu meminimalisir dan mengompensasi dampak negatifnya dapat disebut sebagai pengelabuan citra (greenwash).

Pemalsuan wajah ini pada akhirnya menggenapkan pemalsuan yang lebih dahulu muncul dengan menampilkan iklan rokok yang ‘gagah dan sehat’. Boleh jadi siapapun yang menawarkan kesempatan berdonasi juga akan menambah kebohongannya lagi dengan mengatakan bahwa saham salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia telah banting stir dari industri rokok setelah sahamnya dijual kepada investor asing. Nyatanya, itu pun adalah pengelabuan mutakhir dan pencitraan kepada masyarakat karena sesungguhnya tak ada yang dengan besar hati rela pergi dari industri besar dengan omzet trilyunan rupiah per tahun.